Hubungan asfiksia perinatal dengan gangguan fungsi sel rambut luar koklea

Novi Primadewi, Dewi Pratiwi, Diah Hayustiningsih

Abstract


Latar belakang: Bayi baru lahir dengan asfiksia perinatal dapat mengalami gangguan fungsi sel rambut luar  pada kokleanya. Tujuan:  Mengetahui   hubungan   asfiksia  perinatal  dengan  gangguan   fungsi  sel rambut luar koklea. Metode: Penelitian analitik observasional dengan desain Case control yang dilakukan di bagian perinatologi RSUD Dr. Moewardi Surakarta, RSUD Karanganyar,          RSUD Wonogiri, dan RSUD Sukoharjo dengan waktu penelitian  pada bulan Oktober 2014 – Januari 2015. Sampel penelitian dipilih dengan cara non probability sampling yaitu dengan teknik consecutive sampling, sebanyak 50 orang yang terdiri dari 25 kelompok kasus dan 25 kelompok kontrol. Diagnosis adanya gangguan fungsi sel rambut luar koklea  ditegakkan dari hasil pemeriksaan fisik THT dan pemeriksaan Distortion Product Otoacoustic Emissions  (DPOAE). Asfiksia perinatal dapat dilihat dengan menggunakan  skor APGAR, sedangkan faktor risiko yang lain dapat dilihat dari  catatan  medis pasien. Analisis statistik menggunakan univariat, bivariat, dengan chi square dan multivariat dengan regresi logistik ganda model faktor risiko. Hasil: Dari 25 kelompok kasus dan 25 kelompok kontrol didapatkan hasil bahwa asfiksia perinatal merupakan faktor risiko yang berpengaruh terjadinya gangguan fungsi sel rambut luar koklea.  Bayi baru lahir yang mempunyai  gangguan fungsi sel rambut luar koklea  dengan  asfiksia perinatal mempunyai faktor risiko 29 kali lebih besar daripada bayi dengan bayi baru lahir tanpa gangguan fungsi sel rambut luar koklea, setelah mengontrol pengaruh dari faktor perancu hiperbilirubinemia dan berat  badan lahir rendah. Hasil tersebut didapatkan bermakana secara statitistik (OR=29,614; CI – 95 % = 5,454 - 160,792; p<0,001). Kesimpulan: Terdapat hubungan antara asfiksia perinatal dengan  gangguan fungsi sel rambut luar koklea.

 

Background: Newborn  with  perinatal  asphyxiae can occur disturbance of  function outer hair cell in the cochlea. Objective: was to know the relationship between the degree of perinatal asphyxiae  with impaired  function  of  outer hair cell. Methods: The study was  an analytic observational study with case control design, that  took a place in perinatology department in Doctor Moewardi hospital Surakarta, General hospital  in  Karanganyar,  General hospital in Wonogiri, General hospital in Sukoharjo. The study started from October 2014 until January 2015. The sample study were selected with consecutive sampling method, with total sample of 50 newborns which consist of 25 case group and 25 control group. Impaired function of outer hair cell  has been diagnosed from ENT examination and  examined with Distortion Product Otoacoustic Emissions  (DPOAE). Perinatal asphyxiae were measured with APGAR score and the other risk factor were collected from the medical record of the patients. Data were analyzed with univariat, bivariat (chi square) and multivariat statistic with double logistic regression. Result: From 25 case group and 25 control group, were found that perinatal asphyxiae was the influence risk factor to the occurrence of impaired function of outer hair cell. Newborns have impaired function  of  outer hair cell with   perinatal asphyxiae will have the risk of twenty nine times higher than newborns without perinatal asphyxiae, after controlling of confounding factors low birth weight, and hyperbilirubinemiae. The results  was statistically significant. (OR = 29,614; CI – 95 % = 5,454 - 160,792; p < 0,001). Conclusion: There has corellated between perinatal asphyxiae and impaired function of outer hair cell.


Keywords


asfiksia perinatal, gangguan fungsi sel rambut luar koklea

Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.32637/orli.v49i20.305

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


All articles and issues in Journal Oto Rhinolaryngologica Indonesiana have unique DOI number registered in Crossref.

Web
Analytics Made Easy - StatCounter View ORLI Stats