Penanganan mikrotia bilateral: laporan kasus berbasis bukti

Dini Widiarni Widodo, Harim Priyono, Irma Suryati

Abstract


Latar Belakang: Mikrotia didefinisikan sebagai daun telinga berukuran kecil dengan insiden
sekitar 1 dari 7000-8000 ribu kelahiran, dengan insiden pada satu telinga sekitar empat kali lipat lebih banyak dibanding dua telinga. Rekonstruksi mikrotia merupakan salah satu prosedur cukup sulit pada bidang plastik rekonstruksi. Saat ini, penggunaan tandur tulang rawan iga autologus masih menjadi baku emas untuk rekonstruksi mikrotia. Tujuan: mengingatkan kembali para ahli THT tentang pertimbangan pemilihan rekonstruksi bersamaan pada kasus mikrotia bilateral dengan pencarian literatur berbasis bukti. Kasus: dilaporkan satu kasus mikrotia bilateral derajat 3, dengan hantaran tulang telinga kanan 60 dB, dan hantaran tulang telinga kiri 72,5 dB. Dengan pertimbangan memilih rekonstruksi bersamaan atau bertahap pada kedua telinga dan mengetahui prediksi perbaikan fungsi pendengarannya. Penatalaksanaan: aurikuloplasti tahap 1 dilakukan bersamaan pada kedua telinga. Skor Jahrsdoefer kedua telinga masing-masing 3 dan karena keterbatasan ekonomi dianjurkan menggunakan alat bantu dengar bukan BAHA untuk mengatasi hambatan komunikasi. Kesimpulan: penatalaksanaan mikrotia bilateral di bidang THT tidak hanya mencakup aspek rekonstruksi bentuk namun menekankan fungsi telinga sebagai alat berkomunikasi yang optimal. 

Kata kunci: mikrotia bilateral, ambang pendengaran, aurikuloplasti.

 

ABSTRACT
Background:Microtia is defined as small sized ear with incidence approximately 1 in 7000-8000 births, which incidents in one ear is 4 times more compared to bilateral ear. Microtia reconstruction is one of difficult procedures in plastic reconstruction field. Recently, the use of rib cartilage autograft is still the gold standard for ear reconstruction. Purpose: to inform otorhinolaryngologist concerning simultaneous ear reconstruction in bilateral microtia case with evidence based method. Case: a third grade bilateral microtia, with the result of bone conduction are 60 dB for right ear dan 72,5 dB for left ear, the consideration to reconstruct both ear simultaneously or gradually, and how to predict the hearing improvement Management: first step of auriculoplasty was done in both ears, with Jahrsdoefer score is 3 for each ear, BAHA is adviceable but due to economic limitation the patients chose hearing
aids. Conclusion: Bilateral microtia management in otorhinolaryngology does not only emphasize on ear reconstruction aspects but also to restore ear function as a means of optimal communicating.

Keywords: bilateral microtia, hearing thresholds, auriculoplasty.


Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.32637/orli.v44i1.84

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


All articles and issues in Journal Oto Rhinolaryngologica Indonesiana have unique DOI number registered in Crossref.

Web
Analytics Made Easy - StatCounter View ORLI Stats